Utang Diselesaikan, Amanah Dijungkirbalikkan, Tupai Tidak Berprestasi di Olimpiade

Sore itu, warung kopi Ceu Denok menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berinteraksi dan berbagi cerita. Aroma kopi yang menyegarkan, bersama dengan pisang goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan, menciptakan suasana hangat yang memikat. Di tengah keramaian ini, obrolan mulai mengalir dengan semangat.
Dialog Antara Dua Sahabat
Di sudut warung, Mang Ucup sudah duduk dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Di hadapannya, Jajang Bolang terlihat asyik memainkan sendok, seolah-olah sedang mengaduk baik kopi maupun pemikiran yang berkecamuk di benaknya.
“Jang,” kata Mang Ucup sambil menyeruput kopinya, “hidup ini kadang terasa konyol. Ada yang berutang, ada yang menagih, tetapi seringkali yang kehilangan uang malah disuruh untuk menagih. Seperti cerita di negeri yang tidak jelas, seorang pengusaha jujur yang berusaha membayar utang malah menjadi korban kebohongan orang yang seharusnya bisa dipercaya.”
Jajang mengangguk setuju, seolah memahami makna di balik kata-kata Mang Ucup.
“Itu bukan sekadar cerita, Mang. Itu lebih mirip sebuah sinetron realita dengan judul: ‘Sepandai Tupai Melompat, Gagal Masuk Olimpiade’,” ungkap Jajang dengan nada bercanda.
Ceu Denok, yang sedang melayani pelanggan dari balik etalase, ikut menimpali, “Ah, tupai zaman sekarang bukan lompat lagi, melainkan mencuri kacang milik orang lain.”
Amanah yang Tersia-sia
Melanjutkan pembicaraannya, Mang Ucup berkata, “Begini ceritanya, Jang. Di dunia yang kita kenal, terdapat seorang saudagar yang dikenal sangat jujur. Ia memiliki utang yang harus dibayarkan kepada rekannya. Karena niatnya yang baik, ia memutuskan untuk menitipkan uang untuk membayar utang tersebut melalui orang yang dipercaya oleh si pemberi utang.”
“Jadi, sistemnya sudah modern, ya, Mang? Seperti transfer manual, tapi melalui manusia,” Jajang menyahut dengan rasa ingin tahunya.
“Tepat sekali. Namun di tengah proses tersebut, si ‘kurir amanah’ ini tergoda untuk menyimpangkan sebagian uang tersebut. Alih-alih sampai utang dibayar, uang itu malah berakhir di kantong pribadinya. Hal ini dilakukan dengan sangat halus, seperti pencuri yang menyelinap dengan menggunakan sarung,” Mang Ucup menjelaskan sambil menghela napas.
Jajang tersenyum sinis. “Wah, itu bukan lagi sekadar kurir, Mang. Itu sudah masuk dalam kategori ‘kurang jujur’. Singkatnya, kita bisa sebut sebagai korupsi.”
Ceu Denok menambahkan, “Biasanya, yang seperti itu suka beralasan dengan kalimat: ‘Ini adalah imbalan atas lelahku di jalan’.”
Melihat situasi ini, Mang Ucup menghela napas lagi, seolah menyimpan banyak pikiran.
“Padahal, Jang, dalam hidup ini, amanah adalah sesuatu yang sangat berat. Bahkan di pesantren, seperti yang selalu ditekankan oleh Mama Rohel di Tegal Bentar, amanah bukan hanya tentang seberapa besar atau kecilnya yang dititipkan, tetapi lebih pada rasa takut atau tidaknya kita kepada Yang Maha Melihat,” ujarnya dengan nada serius.
Jajang tiba-tiba menjadi lebih serius. “Jadi, meski tidak ada CCTV fisik, tetap ada ‘CCTV langit’, ya, Mang?”