Dandi Sitanggang Pulang ke Tanah Air Setelah Terjebak Scam-Overstay 2,5 Tahun di Kamboja dengan Bantuan Pdt Penrad Siagian

Pulang ke Tanah Air setelah mengalami pengalaman pahit selama lebih dari dua tahun di Kamboja, Dandi Sitanggang akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Kepulangannya tidak lepas dari bantuan aktif Pdt. Penrad Siagian, anggota DPD RI asal Sumatra Utara, yang berperan penting dalam proses pemulangannya. Kisah Dandi adalah pengingat akan risiko besar yang mungkin dihadapi oleh mereka yang terjebak dalam tawaran pekerjaan yang tampak menggiurkan, namun tidak jelas asal-usulnya.
Kisah Awal Dandi Sitanggang
Dandi Sitanggang, seorang pemuda asal Bandar Baru, memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah pada Mei 2024 tanpa sepengetahuan keluarganya. Kepergiannya yang mendadak dan misterius memicu kekhawatiran di kalangan keluarganya, yang berusaha mencari tahu keberadaan Dandi. Setelah beberapa waktu, mereka baru menyadari bahwa Dandi berada di Kamboja.
Dalam perjalanannya ke Kamboja, Dandi mengaku tertarik dengan tawaran pekerjaan yang ia temui melalui media sosial, khususnya Facebook. Namun, kenyataan yang ia hadapi sangat berbeda. Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang layak, Dandi terjebak dalam sebuah perusahaan yang beroperasi dalam skema penipuan daring.
Pengalaman Kerja yang Menyedihkan
Selama lima bulan bekerja di perusahaan tersebut, Dandi merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi target yang ditetapkan. Pada akhirnya, ia dipecat dan diberikan dua pilihan yang sangat tidak manusiawi: dijual atau dipulangkan. Dandi memilih untuk dipulangkan, tetapi jalannya menuju kepulangan tidak semudah yang dibayangkan.
Proses kepulangannya terhambat oleh biaya yang tidak mencukupi. Saat berada di bandara, Dandi terpaksa menunggu dan berharap ada solusi untuk membiayai kepulangannya ke Indonesia. Beruntung, ia bertemu dengan sesama warga negara Indonesia yang membantunya mendapatkan pekerjaan sementara di sebuah perusahaan lain dengan gaji 300 dolar AS. Dandi akhirnya bisa bertahan dengan bekerja di sebuah rumah makan sebelum berhasil kembali ke tanah air.
Kekhawatiran Keluarga Dandi
Keluarga Dandi, terutama ibunya, Rahmawati Silalahi, tidak henti-hentinya berdoa agar Dandi kembali dengan selamat. Ia menceritakan bagaimana kegelisahan dan kecemasan yang mereka alami sejak Dandi pergi tanpa pamit. Keluarganya berusaha mencari Dandi dengan mengelilingi kampung, pergi ke Medan, bahkan melapor ke polisi, tetapi semua usaha itu sia-sia hingga mereka mengetahui bahwa Dandi berada di Kamboja.
Pencarian Bantuan dan Doa
Ketua Runggun GBKP Bandar Baru, Pdt. Manase Sembiring, menambahkan bahwa pihak keluarga mencari bantuan dan doa dari gereja pada tahun 2024 setelah kehilangan kontak dengan Dandi. Kondisi ini membuat mereka sangat khawatir akan keselamatan Dandi.
Setelah adanya komunikasi yang intens antara gereja dan Pdt. Penrad Siagian, proses pemulangan Dandi mulai berjalan. Dandi diketahui masuk ke Kamboja secara ilegal, sehingga tidak memiliki paspor dan visa tinggal. Ini menyebabkan kepulangannya menjadi rumit, terutama karena ia telah overstay selama lebih dari 2,5 tahun.
Kesulitan dan Denda
Dandi harus menghadapi kenyataan bahwa ia akan dikenakan denda yang sangat tinggi jika ingin dipulangkan ke Indonesia. Biaya denda ini mencapai ratusan juta rupiah, yang jelas merupakan beban berat bagi Dandi dan keluarganya.
Pdt. Meri Br. Ginting, Sekretaris Klasis Sibolangit dan Pendeta GBKP Runggun Bandar Baru, mengungkapkan bahwa pada Natal 2025, ia mendengar keluhan dari ibu Dandi. Ia merasa perlu untuk bertindak dan berusaha membantu keluarga Dandi. Setelah berdiskusi dengan Pdt. Sry Sulastri Br. Ginting, Ketua Klasis GBKP Barus Sibayak, mereka menghubungi Pdt. Penrad Siagian untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Kerja Sama untuk Memulangkan Dandi
Proses pemulangan Dandi melibatkan banyak pihak, dan semua orang berdoa serta berusaha agar ia bisa kembali ke tanah air. Pdt. Meri menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diberikan oleh Pdt. Penrad Siagian. “Kami percaya bahwa Tuhan akan membuka jalan bagi kami,” ungkapnya.
Ayah Dandi, Saut Sitanggang, juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Pdt. Penrad Siagian atas bantuannya dalam memulangkan anaknya. Dalam sebuah pernyataan emosional, ia berharap agar Pdt. Penrad selalu diberikan kesehatan dan berkah oleh Tuhan.
Apresiasi dari Komunitas
Penghargaan juga datang dari jemaat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) setempat. Ketua Klasis GBKP Sibolangit, Pdt. Lia Br Sembiring, mengucapkan terima kasih kepada Pdt. Penrad Siagian atas perhatian dan bantuannya kepada salah satu jemaat mereka. “Kami sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan,” katanya.
Respons Pdt. Penrad Siagian
Saat menerima ucapan terima kasih dari keluarga dan jemaat, Pdt. Penrad Siagian menyatakan bahwa kepulangan Dandi adalah bagian dari tanggung jawab moral dan pelayanannya kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa membantu warga Sumatra Utara yang mengalami kesulitan adalah bagian dari panggilannya.
Dalam keterangan resminya, Pdt. Penrad menyampaikan rasa syukurnya karena proses pemulangan Dandi dapat berjalan lancar. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua orang, terutama bagi anak-anak muda, agar lebih berhati-hati dalam memilih tawaran pekerjaan dari luar negeri yang tidak jelas keabsahannya.
Pentingnya Waspada terhadap Tawaran Pekerjaan Ilegal
Pdt. Penrad juga mengapresiasi kerja sama yang baik antara keluarga, pihak gereja, dan berbagai pihak lainnya dalam proses pemulangan Dandi. “Kepulangan Dandi bukan hanya tentang kembali ke rumah, tetapi juga tentang kesaksian iman dan kebersamaan,” ucapnya. Ia berharap agar masyarakat semakin peduli terhadap sesama yang membutuhkan bantuan.
Kepulangan Dandi Sitanggang menjadi momen yang penuh syukur bagi keluarga dan warga Bandar Baru. Ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya tawaran pekerjaan ilegal di luar negeri. Semoga pengalaman Dandi dapat memberikan pelajaran berharga bagi semua orang, agar tidak terjebak dalam situasi serupa di masa depan.
